“Embee„ aku mencoba raih bahagia dengan dia yang dibangga, ternyata hanya skedar pelipur lara, aku mencoba rangkai mimpi dengan dia yang mau berbagi, ternyata tak ada keberaniaan diri terlebih kesediaan hati tuk memuwujudkannya terjadi.. 
Embee„ kasih aku kesempatan tuk bukan lagi mencari dan berpindah ke lain hati, melainkan mensyukuri dengan janji setiaku padamu terpatri..
Embee„ sememperlihatkan banggaku dengannya, tapi tetap saja embee hatiku padamu tak bisa diganti..”

Tidak semua yang terlihat tuk bisa dikira, akan rasa..
Ya secara essensi tak terterka tiada terkira tak bisa dimengerti maupun dipahami..
Memori 3 tahun saling berbagi terisi oleh kekuatan hati penuh dengan kesadaran akan apa yang DIRASAKAN bukan dari apa yang DIPERLIHATKAN..
Bukan sebatas mengangan mengingin, tapi butuh sebuah keberanian tuk menjadi terjadi..
Bukan pula sekedar tulisan ataupun ucapan sebagai suatu keingin tuk kesempunaan angan, melainkan sebuah keberanian tuk melakukan..


“Satu hanya untukmu seorang yang ku pinang, embeeku..”

“Setiamu, dan bersedianya aku padamu, ombaaku..”

“Embee„ aku mencoba raih bahagia dengan dia yang dibangga, ternyata hanya skedar pelipur lara, aku mencoba rangkai mimpi dengan dia yang mau berbagi, ternyata tak ada keberaniaan diri terlebih kesediaan hati tuk memuwujudkannya terjadi..
Embee„ kasih aku kesempatan tuk bukan lagi mencari dan berpindah ke lain hati, melainkan mensyukuri dengan janji setiaku padamu terpatri..
Embee„ sememperlihatkan banggaku dengannya, tapi tetap saja embee hatiku padamu tak bisa diganti..”

Tidak semua yang terlihat tuk bisa dikira, akan rasa..
Ya secara essensi tak terterka tiada terkira tak bisa dimengerti maupun dipahami..
Memori 3 tahun saling berbagi terisi oleh kekuatan hati penuh dengan kesadaran akan apa yang DIRASAKAN bukan dari apa yang DIPERLIHATKAN..
Bukan sebatas mengangan mengingin, tapi butuh sebuah keberanian tuk menjadi terjadi..
Bukan pula sekedar tulisan ataupun ucapan sebagai suatu keingin tuk kesempunaan angan, melainkan sebuah keberanian tuk melakukan..


“Satu hanya untukmu seorang yang ku pinang, embeeku..”

“Setiamu, dan bersedianya aku padamu, ombaaku..”

BEING ABLE TO LOVE AND TO BE LOVED..

I need you Ya Rabb that I’m not strong enough and no longer make it alone..
I need you Ya Rabb to help me give, because I no longer seem capable of giving, to help me be kind, as I no longer seem capable of kindness, to help me love, as I seem beyond being able to love and to be loved..

DON’T WORRY FOR BEING ALONE..

lights guide you through the emptiness
there’s something you could found
in the dark..
the beat that you can feel inside
and it won’t make you sad
you will know..

-the milo-

MENYENDIRILAH SAMPAI MERASA LELAH

Bukan empati miris yang dibutuhkan, bukan pula bahagia canda tawa yang dihiraukan, melainkan diam yang bersemayam di tiap-tiap kelamnya malam..

Perilaku ini tidak dipertanyakan pada orang yang berpengaruh, hanya karena tidak ada pertanyaan lagi atau mungkin karena malah lelah untuk bertanya..

Aku pasrah, dengan kepasrahan seseorang yang lebih sedikit ketimbang yang lebih banyak untuk dilakukan.. Aku tidak mau menau bagaimana cara orang lain bisa mengahadapi dengan berani atau skedar menerima tawaran untuk ditemani disisi saling berbagi..

Aku merasa, mereka tidak dapat menerka dalam sebuah pola tanda tanya yang tak terterka.. Karena ini sebuah perenungan, penuh kesendirian utuh, untuk sebuah penerimaan..

Aku kerap berharap, aku cukup kuat tuk menghadap.. Bahkan aku tak punya alasan valid tuk solid yang bisa ditawarkan kepada kawan-kawan, seakan aku adalah wanita yang meragu keraguan sebagai hirauan pada himbauan sebuah bantuan..

Fakta sederhana di dalam kisahkasih merana dari apa yang telah disiasia, mengubahku menjadi pribadi yang menyendiri, seorang diri yang ingin dihindari..

Maka, menyendirilah sampai merasa lelah…

“Jika aku terbang nanti, apakah kepakan sayapmu jg akan mengikutinya?” sinar mataku mencoba menerobos hatimu yang genting..

“Aku tlah berjanji dengan mulutku, tapi aku takut membuktikannya dengan tindak lakuku..” santainya kamu melambai..

“Ayolah, aku adalah perempuan, dan aku butuh sebuah kepastian bukan skedar permainan,” tegasku lugas..!!

“Jika aku bisa memberi kepastian tentang esok yang samar, pasti aku bukan laki-laki yang bisa kamu sentuh.” Cinta kita cinta yang pekat tanpa erat yang mengikat..

“Jadi, esok akan samar untuk kuraba? Bagaimana aku akan menerjang badai, sedangkan kekuatan itu ada pada kepastian yang aku minta darimu?”

“Sayapku lama kelamaan bisa patah nelangsa dan terkatung-katung karena ku hanya terbang melayang di angkasa yang menggantung..”

“Berhentilah mengeluh, tlah jauh jalan yang kita tmpuh.. Kepastian apa yang harus aku berikan?”

“Kita sudah 3 tahun, trlalu tua untuk kita permainkan rasa yang dari dulu kita jaga semenjak lama, ratusan kata aku mencintaimu telah sering ku dengar olehmu, hingga tak sampai ada kepastian darimu yang tak kunjung datang membuatku tak tenang..”

“Kamu hanya bisa terdiam, tak mendengar pintaku akan kepastianmu, menghiraukannya dengan selalu tiada henti memburu kupu-kupu yang terbang disekelilingmu..”

“Langkahku terhenti dengan tanganmu menggenggam beberapa ekor kupu-kupu yang kamu tangkap dengan lahap..”

“Tubuhku terlalu ringkih untuk terus berjalan, dan kamu tak pernah menunjuk di mana ujung jalan ini berhenti dan ternyata ini bagimu hanya sekedar permainan hati..”

Dengan siapa kamu melangkah menapak ke ujung malam? Untuk siapa kamu rangkai rayuan, buayan buaya tipudaya? 
Ahh, aku tak bisa membaca alur status mu : ‘COWO SEMAKIN KAYA SEMAKIN NAKAL, CEWE SEMAKIN NAKAL SEMAKIN KAYA’
dan berbagai macam kalimat binal bersama orang yang tlah lalu merusak hub kita karena wanita yang prnah dia tawarkan pdmu, kini dia kembali hadir dalam TRAUMAku, dengan SGALA TIPU DAYA KEUANGANMU YANG MERAJA LELA TERLENA, TAPI BERPURA MERANA..

Cuma sedikit yang bisa aku terjemahkan, dengan segala pertanyaan sertamerta gelisahku penuh dengan keraguan.. Tanpa ada penjelasan dan kepastian darimu yang hanya mengagapnya sebagai pemainan..

Hingga suatu saat nanti kamu akan kembali mencariku ke suatu tempat.. Aku tahu siapa yang membisikan itu padamu, dia adalah rindu, ya sang rindu yang telah meluap menggenangi gersangnya hati sejak kamu mengabaikanku..

Hingga suatu saat nanti kamu akan ikuti arah yang dikabarkan oleh rindu yang dulu slalu kamu ragukan pada ku akanya.. 

“Carilah dia ke semua penjuru arah mata angin..!!” Bentak sang rindu saat langkahmu berhenti dipenghujung senja, putus asa, lelah, dan pasrah..

“Kamu memang pengecut!” Ejek rindu yang trus menyerbu..

“Ingat, aku akan selalu mengganggu malam malammu dengan menjelmakan wajahnya ke pelupuk matamu..!! Aku menitipkan pada angin derai perih dan tangisannya, tentunya akan sampai pada telingamu..!!” Kata rindu mengancammu..

“Hei, dengar kamu..!! Dia tidak dirancang untuk datang terlambat, dan juga jangan salahkan kesempatan yang tak kamu sempatkan tuk menyempatkannya”, ujar sang rindu mengingatkanmu..

“Dia pun pernah menulis ratusan bahkan jutaan huruf tentangmu, tentang tindaklakumu, tentang hianatmu, dan dari waktu ke waktu dia slalu menguatkan dan brusaha mengikhlaskan dengan slalu berdoa :
‘Ya Rabb..
Trimakasih untuk smwa kebahagian yang Engkau berikan kepada dirinya, jaga dia dimana pun dia berada, lindungi dia di stiap waktunya..
Ku ingin smwa luka dlu saat aku masih bersamanya tergantikan dengan smwa tawa saat kini dia bersama wanita itu..
Kumohon pd-Mu ya Rabb jangan ambil ingatan tentangku darinya, biarlah di suatu waktu dia bisa mengingatku kembali lagi, karena tak hanya luka, tapi karena tawa yang prnah sempat kuberbagi hanya untuknya seorang, kuingin tawa itu yang slalu akan dia ingat nantinya, amien..’ tidakkah kamu barangsesaat saja memposisikan sebagai dia yang slalu di dua?” ujar sang rindu menawarkan..

“Aku bukan satu-satunya manusia yang membutuhmu yang menjelmakan dia dalam kata-kata menjadi seorang perempuan itu,” katamu berego bego..!!

“Kamu tak pernah berterima kasih padaku wahai Dheno.. Ingat, akulah sang rindu yang mengabarkan padamu bahwa dia iya dia si Miun yang mencintaimu apadaya.. Kamu sudah lupa bahwa aku telah menjelmakan rupamu kepadanya di setiap malam-malamnya? Semua dipenuhi bayang bayangmu twu..!!” jelas dan tegas sang rindu mengadu padamu..

“Jika itu memang benar, kenapa sampai saat ini dia tak kunjung aku temukan? Perlihatkan dia padaku..” sahutmu membalas rindu menggebu..

Lalu rindu itu terdiam dan menghilang.. Kamu hanya bisa mencarinya disudut-sudut kamar, atau mungkin saja dia bersembunyi dibawah bantalmu, truslah kian kamu tlusuri trus, tlusuri seluruh isi kamarmu yang penuh dengan alat2 elekronik yang bagimu barang2 itu lebih kamu ramaikan dibandingkan sepinya kamar si Miun..

“Aku di sini..!!” Tak jelas dimana sang rindu itu brada, cuma suaranya saja yang trdengar menggelegar..

“Di mana matahari? Aku ingin menyudahi perdebatanku dengan rindu ini” ujarmu kewalahan..

“Kamu ingin tahu mengapa dia tak kunjung kamu temukan?” ujarnya lagi, cepat-cepat kamu mengangguk, sebab kamu sudah tak berdaya lagi melawannya..

“Sederhana saja jawabannya.. Karena, kamu terlalu pengecut terhadap hari esok..!! Bibirmu yang tak pernah jemu menciumnya, terlalu pecundang untuk mengatakan sebuah kepastian kepadanya..!!!” ketus sang rindu meletus.. 

“Kenapa tak kamu selipkan saja sebuah cincin di jari manisnya? Tentukan TANGGAL, lantas MENABUNGlah demi MASADEPAN yang ada di hadapan dan kamu tak perlu bicara tentang esok yang menurutmu samar itu, melainkan berani mengambil TINDAKAN dengat NIATAN tuk menyempurnakan ibadah, sederhana bukan?” matamu meraba ke arah dimana suara itu berkata..

“Terlebih kamu tak pernah tahu perasaan perempuan..!! Dan kamu tak pernah memposisikan diri sebagai perempuan yang membutuhkan kepastian” kata sang rindu mengakhiri diri..

Lega rasanya saat segaris cahaya masuk disela jendela, matahari menyudahi mimpi malammu yang melelahkan.. Ada sisa keringat di dahimu, membuka lebar jendela dan membiarkan cahaya itu masuk menjamah separuh ranjangmu.. Kamu berjalan menuju cermin untuk menyeka keringat dan terkejut saat kamu mendapati rupamu di dalamnya dengan kerut yang saling tindih, rambut uban yang berantakan.. 

Sesuatu telah terjadi dan kemana perginya kata-kata yang selalu diucapkan seorang perempuan kepadamu tiap pagi?

Kamu panik dan kembali ke cermin itu.. Meminta pengakuan bahwa kamu masih seperti puluhan tahun yang lalu.. Sebab, dialah saksi satu-satunya dan tak ada jawaban selain tatapan sebuah rasa heran..

“Hei, pergilah.. Cepat kemasi aku, dan aku akan mendoakanmu..!!” Apakah rindu yang berkata, atau sesal?

Kalau sesal, usah kamu perdulikan akannya sebab sesal selalu datang terlambat..

Matamu mencari ke sekeliling kamar mencari tahu dari mana suara itu berasal.. Matamu berhenti disebuah bingkai cermin dimana treselip foto wanita yang selalu menunggu kepastianmu, tapi kini dimana foto itu? 
Kamu mengikuti seruan dari suara bingkai itu.. Langkahmu tertatih-tatih menyelusuri jalan sarijadi hingga juanda yang keberaadaanku tak kunjung ada..

Kamu dapati saat ini kenyataan di sini sudah tak seperti dulu lagi, semua penghuni tempat ini berubah jadi pikun.. Tak ada yang mengenalimu lagi, padahal hampir separuh hidup, kamu habiskan di sini.. Merangkai ritual kasmaran, merawat cinta dengan harapan muncul putik rindu yang wangi.. Bersama perempuan itu.. MBEE cintanya aku, begitu kamu memanggilnya saat rindu datang bertamu..

Kamu mencoba mencarinya dengan cahaya mata yang kabur, tapi nasi sudah trlanjur menjadi bubur..

“Berapa musim aku sudah ditinggalkan olehmu mbee? Dua musim? Seratus tahun? Atau sejuta kali purnama? Tidak, tidak, baru kemaren kamu pergi.. Datanglah mbeeku agar aku bisa melangkah setapak meninggalkan dilema ini” gumammu..

“Tempat ini tak berubah, penghuninya cuma pikun terhadapku ini disebabkan karena aku tak bersamamu lagi.. Mereka cuma terbiasa melihatku bersamamu di sini sebagai dua sejoli bukan sendiri.. Aku tetap di sini menunggu gelap, menebus sesal, niat yang telat..

“Apa kataku, aku akan menjelmakan kenangan itu padamu Dheno..!!” ujar rindu mengahajar..

“Dia datang lagi.. Kenapa bisa? Bukankah dia hanya dalam mimpi menemuiku dan membentakku?” tanyamu heran..

“Dheno jangan pedulikan, aku telah mendoakanmu..!!” suruh kenangan menyuara..

“Hei, kamu seharusnya datang sesudahku, kamu hanya sebuah kenangan yang tak berguna..!!” Teriak rindu berang..

“Kamu terlalu sombong tanpa aku kamu tak akan layak disebut rindu..!!” Balas kenangan itu dan mereka bertengkar..

“Perasaanku semakin kusut.. Kacau.. Bingung.. Mereka bertengkar dan mengacaukan benakku..
Aku terus saja berjalan dengan nafas yang tersengal, melangkah payah mengelilingi sarijadi hingga juanda ini, mataku terlalu tajam untuk melewatkan sosok perempuan yang berjalan menuju ke arahku.. Ada seorang yang seiring dengannya aku tak memperdulikan rindu dan kenangan itu bertengkar.. Sesuatu menguatkan tajam mataku pada sosok perempuan itu..” fokusmu..

“Penyesalan yang berlepotan di mataku, tersentak, aku terjaga ke masa lalu.. Dan Mbee mgkin merasa menyesal mengenalku, gundah yang begitu basi antara bimbang dan gamang aku meradang mbee..”

“Ini aku mbee..!” Teriakmu padaku..

“Aku yang menantimu sampai penghuni sarijadi ini pikun dengan kerut semraut hingga rambutku putih berkabut mbee..” 

“Mbee cintanya aku..!! Abaikah mbee pada panggilanku? Panggilan saat aku,” Ahh, aku tak bisa melanjutkan kata-kataku, rindu pasti mencemoohku.. Kemana perginya kenangan tadi? Padahal dia masih di sini.. Di benakku.. Tolong aku.. Hasut dia.. Sentuh hatinya si Miun, Mbee nya aku..” pintamu meronta..

Tak ada suara, sepi, lampu temaram, dingin gigilkan tubuhmu yang beraroma senja merana tak berdaya.. 

Perempuan itu yakni AKU berdiri di depanmu dihadapanmu pilu..

“Separuh hati yang angkuh yang kamu taruh ketika pertama kali aku berlabuh, separuh hati yang luluh menyentuh ketika kamu tertunduk rapuh smakin buatkan hatiku bergemuruh.. Ketika ke angkuhanmu runtuh engkau tetap kukuh sekuat bunyi guruh.. Suaramu mendendangkan hatiku yang terus terjaga itu karena rinduku padamu twu..!!” ucap tegasku..

“Aku tak mendapati kepastian di matamu Dheno..!! Sampai saat aku ke sini dibawa kenangan dan sebaris rindu, rindu yang hebat.. Ternyata rindu yang hidupkan hari esok, memberi harapan dan kekuatan sampai kamu seperti ini senja, tua, dan renta.. Ya tetap saja tak ada sesuatu yang kamu sematkan ke jari manisku, TAK ADA UANG YANG BERSISA TUK KAMU TABUNGKAN TAK ADA RENCANA KEDEPAN MELAINKAN SLALU KETETERAN TIAP AKHIR BULAN..” 

“Kamu terlalu tua untuk cinta serapuh itu, kamu tak berdaya, sebab kekuatanmu kamu buang percuma, hanya pada kekuatan uang dengan sloganmu COWO SEMAKIN KAYA SEMAKIN NAKAL.. CEWE SEMAKIN NAKAL SEMAKIN KAYA..!!, hatiku miris teriris..

“Apa bagimu aku tenang, dengan kalimat2 binalmu brsama orang yang kamu anggap sebagai sahabat lama itu, tapi tidak bagiku, dia masih tetap sebagai orang yang mengenalkanmu pada wanita dan menghancurkan hubungan kita karena wanita, tidakkah kamu belajar dari kehidupan asmaranya? Tetapkah istrinya bertahan kepadanya? Sanggupkah istrinya rela tuk di dua? Tidak bukan? Lagi2 itu karena wanita..!!” 

“Dulu, jauh di masa lalu, saat aku ingin menyerahkan separuh hidupku padamu, kamu masih menjadi seorang pengabai, pecundang dan pengecut..!!” Jelas sesal saat semua mulai gelap, senyap dan pengap..

“Jika aku terbang nanti, apakah kepakan sayapmu jg akan mengikutinya?” sinar mataku mencoba menerobos hatimu yang genting..

“Aku tlah berjanji dengan mulutku, tapi aku takut membuktikannya dengan tindak lakuku..” santainya kamu melambai..

“Ayolah, aku adalah perempuan, dan aku butuh sebuah kepastian bukan skedar permainan,” tegasku lugas..!!

“Jika aku bisa memberi kepastian tentang esok yang samar, pasti aku bukan laki-laki yang bisa kamu sentuh.” Cinta kita cinta yang pekat tanpa erat yang mengikat..

“Jadi, esok akan samar untuk kuraba? Bagaimana aku akan menerjang badai, sedangkan kekuatan itu ada pada kepastian yang aku minta darimu?”

“Sayapku lama kelamaan bisa patah nelangsa dan terkatung-katung karena ku hanya terbang melayang di angkasa yang menggantung..”

“Berhentilah mengeluh, tlah jauh jalan yang kita tmpuh.. Kepastian apa yang harus aku berikan?”

“Kita sudah 3 tahun, trlalu tua untuk kita permainkan rasa yang dari dulu kita jaga semenjak lama, ratusan kata aku mencintaimu telah sering ku dengar olehmu, hingga tak sampai ada kepastian darimu yang tak kunjung datang membuatku tak tenang..”

“Kamu hanya bisa terdiam, tak mendengar pintaku akan kepastianmu, menghiraukannya dengan selalu tiada henti memburu kupu-kupu yang terbang disekelilingmu..”

“Langkahku terhenti dengan tanganmu menggenggam beberapa ekor kupu-kupu yang kamu tangkap dengan lahap..”

“Tubuhku terlalu ringkih untuk terus berjalan, dan kamu tak pernah menunjuk di mana ujung jalan ini berhenti dan ternyata ini bagimu hanya sekedar permainan hati..”

Dengan siapa kamu melangkah menapak ke ujung malam? Untuk siapa kamu rangkai rayuan, buayan buaya tipudaya?
Ahh, aku tak bisa membaca alur status mu : ‘COWO SEMAKIN KAYA SEMAKIN NAKAL, CEWE SEMAKIN NAKAL SEMAKIN KAYA’
dan berbagai macam kalimat binal bersama orang yang tlah lalu merusak hub kita karena wanita yang prnah dia tawarkan pdmu, kini dia kembali hadir dalam TRAUMAku, dengan SGALA TIPU DAYA KEUANGANMU YANG MERAJA LELA TERLENA, TAPI BERPURA MERANA..

Cuma sedikit yang bisa aku terjemahkan, dengan segala pertanyaan sertamerta gelisahku penuh dengan keraguan.. Tanpa ada penjelasan dan kepastian darimu yang hanya mengagapnya sebagai pemainan..

Hingga suatu saat nanti kamu akan kembali mencariku ke suatu tempat.. Aku tahu siapa yang membisikan itu padamu, dia adalah rindu, ya sang rindu yang telah meluap menggenangi gersangnya hati sejak kamu mengabaikanku..

Hingga suatu saat nanti kamu akan ikuti arah yang dikabarkan oleh rindu yang dulu slalu kamu ragukan pada ku akanya..

“Carilah dia ke semua penjuru arah mata angin..!!” Bentak sang rindu saat langkahmu berhenti dipenghujung senja, putus asa, lelah, dan pasrah..

“Kamu memang pengecut!” Ejek rindu yang trus menyerbu..

“Ingat, aku akan selalu mengganggu malam malammu dengan menjelmakan wajahnya ke pelupuk matamu..!! Aku menitipkan pada angin derai perih dan tangisannya, tentunya akan sampai pada telingamu..!!” Kata rindu mengancammu..

“Hei, dengar kamu..!! Dia tidak dirancang untuk datang terlambat, dan juga jangan salahkan kesempatan yang tak kamu sempatkan tuk menyempatkannya”, ujar sang rindu mengingatkanmu..

“Dia pun pernah menulis ratusan bahkan jutaan huruf tentangmu, tentang tindaklakumu, tentang hianatmu, dan dari waktu ke waktu dia slalu menguatkan dan brusaha mengikhlaskan dengan slalu berdoa :
‘Ya Rabb..
Trimakasih untuk smwa kebahagian yang Engkau berikan kepada dirinya, jaga dia dimana pun dia berada, lindungi dia di stiap waktunya..
Ku ingin smwa luka dlu saat aku masih bersamanya tergantikan dengan smwa tawa saat kini dia bersama wanita itu..
Kumohon pd-Mu ya Rabb jangan ambil ingatan tentangku darinya, biarlah di suatu waktu dia bisa mengingatku kembali lagi, karena tak hanya luka, tapi karena tawa yang prnah sempat kuberbagi hanya untuknya seorang, kuingin tawa itu yang slalu akan dia ingat nantinya, amien..’ tidakkah kamu barangsesaat saja memposisikan sebagai dia yang slalu di dua?” ujar sang rindu menawarkan..

“Aku bukan satu-satunya manusia yang membutuhmu yang menjelmakan dia dalam kata-kata menjadi seorang perempuan itu,” katamu berego bego..!!

“Kamu tak pernah berterima kasih padaku wahai Dheno.. Ingat, akulah sang rindu yang mengabarkan padamu bahwa dia iya dia si Miun yang mencintaimu apadaya.. Kamu sudah lupa bahwa aku telah menjelmakan rupamu kepadanya di setiap malam-malamnya? Semua dipenuhi bayang bayangmu twu..!!” jelas dan tegas sang rindu mengadu padamu..

“Jika itu memang benar, kenapa sampai saat ini dia tak kunjung aku temukan? Perlihatkan dia padaku..” sahutmu membalas rindu menggebu..

Lalu rindu itu terdiam dan menghilang.. Kamu hanya bisa mencarinya disudut-sudut kamar, atau mungkin saja dia bersembunyi dibawah bantalmu, truslah kian kamu tlusuri trus, tlusuri seluruh isi kamarmu yang penuh dengan alat2 elekronik yang bagimu barang2 itu lebih kamu ramaikan dibandingkan sepinya kamar si Miun..

“Aku di sini..!!” Tak jelas dimana sang rindu itu brada, cuma suaranya saja yang trdengar menggelegar..

“Di mana matahari? Aku ingin menyudahi perdebatanku dengan rindu ini” ujarmu kewalahan..

“Kamu ingin tahu mengapa dia tak kunjung kamu temukan?” ujarnya lagi, cepat-cepat kamu mengangguk, sebab kamu sudah tak berdaya lagi melawannya..

“Sederhana saja jawabannya.. Karena, kamu terlalu pengecut terhadap hari esok..!! Bibirmu yang tak pernah jemu menciumnya, terlalu pecundang untuk mengatakan sebuah kepastian kepadanya..!!!” ketus sang rindu meletus..

“Kenapa tak kamu selipkan saja sebuah cincin di jari manisnya? Tentukan TANGGAL, lantas MENABUNGlah demi MASADEPAN yang ada di hadapan dan kamu tak perlu bicara tentang esok yang menurutmu samar itu, melainkan berani mengambil TINDAKAN dengat NIATAN tuk menyempurnakan ibadah, sederhana bukan?” matamu meraba ke arah dimana suara itu berkata..

“Terlebih kamu tak pernah tahu perasaan perempuan..!! Dan kamu tak pernah memposisikan diri sebagai perempuan yang membutuhkan kepastian” kata sang rindu mengakhiri diri..

Lega rasanya saat segaris cahaya masuk disela jendela, matahari menyudahi mimpi malammu yang melelahkan.. Ada sisa keringat di dahimu, membuka lebar jendela dan membiarkan cahaya itu masuk menjamah separuh ranjangmu.. Kamu berjalan menuju cermin untuk menyeka keringat dan terkejut saat kamu mendapati rupamu di dalamnya dengan kerut yang saling tindih, rambut uban yang berantakan..

Sesuatu telah terjadi dan kemana perginya kata-kata yang selalu diucapkan seorang perempuan kepadamu tiap pagi?

Kamu panik dan kembali ke cermin itu.. Meminta pengakuan bahwa kamu masih seperti puluhan tahun yang lalu.. Sebab, dialah saksi satu-satunya dan tak ada jawaban selain tatapan sebuah rasa heran..

“Hei, pergilah.. Cepat kemasi aku, dan aku akan mendoakanmu..!!” Apakah rindu yang berkata, atau sesal?

Kalau sesal, usah kamu perdulikan akannya sebab sesal selalu datang terlambat..

Matamu mencari ke sekeliling kamar mencari tahu dari mana suara itu berasal.. Matamu berhenti disebuah bingkai cermin dimana treselip foto wanita yang selalu menunggu kepastianmu, tapi kini dimana foto itu?
Kamu mengikuti seruan dari suara bingkai itu.. Langkahmu tertatih-tatih menyelusuri jalan sarijadi hingga juanda yang keberaadaanku tak kunjung ada..

Kamu dapati saat ini kenyataan di sini sudah tak seperti dulu lagi, semua penghuni tempat ini berubah jadi pikun.. Tak ada yang mengenalimu lagi, padahal hampir separuh hidup, kamu habiskan di sini.. Merangkai ritual kasmaran, merawat cinta dengan harapan muncul putik rindu yang wangi.. Bersama perempuan itu.. MBEE cintanya aku, begitu kamu memanggilnya saat rindu datang bertamu..

Kamu mencoba mencarinya dengan cahaya mata yang kabur, tapi nasi sudah trlanjur menjadi bubur..

“Berapa musim aku sudah ditinggalkan olehmu mbee? Dua musim? Seratus tahun? Atau sejuta kali purnama? Tidak, tidak, baru kemaren kamu pergi.. Datanglah mbeeku agar aku bisa melangkah setapak meninggalkan dilema ini” gumammu..

“Tempat ini tak berubah, penghuninya cuma pikun terhadapku ini disebabkan karena aku tak bersamamu lagi.. Mereka cuma terbiasa melihatku bersamamu di sini sebagai dua sejoli bukan sendiri.. Aku tetap di sini menunggu gelap, menebus sesal, niat yang telat..

“Apa kataku, aku akan menjelmakan kenangan itu padamu Dheno..!!” ujar rindu mengahajar..

“Dia datang lagi.. Kenapa bisa? Bukankah dia hanya dalam mimpi menemuiku dan membentakku?” tanyamu heran..

“Dheno jangan pedulikan, aku telah mendoakanmu..!!” suruh kenangan menyuara..

“Hei, kamu seharusnya datang sesudahku, kamu hanya sebuah kenangan yang tak berguna..!!” Teriak rindu berang..

“Kamu terlalu sombong tanpa aku kamu tak akan layak disebut rindu..!!” Balas kenangan itu dan mereka bertengkar..

“Perasaanku semakin kusut.. Kacau.. Bingung.. Mereka bertengkar dan mengacaukan benakku..
Aku terus saja berjalan dengan nafas yang tersengal, melangkah payah mengelilingi sarijadi hingga juanda ini, mataku terlalu tajam untuk melewatkan sosok perempuan yang berjalan menuju ke arahku.. Ada seorang yang seiring dengannya aku tak memperdulikan rindu dan kenangan itu bertengkar.. Sesuatu menguatkan tajam mataku pada sosok perempuan itu..” fokusmu..

“Penyesalan yang berlepotan di mataku, tersentak, aku terjaga ke masa lalu.. Dan Mbee mgkin merasa menyesal mengenalku, gundah yang begitu basi antara bimbang dan gamang aku meradang mbee..”

“Ini aku mbee..!” Teriakmu padaku..

“Aku yang menantimu sampai penghuni sarijadi ini pikun dengan kerut semraut hingga rambutku putih berkabut mbee..”

“Mbee cintanya aku..!! Abaikah mbee pada panggilanku? Panggilan saat aku,” Ahh, aku tak bisa melanjutkan kata-kataku, rindu pasti mencemoohku.. Kemana perginya kenangan tadi? Padahal dia masih di sini.. Di benakku.. Tolong aku.. Hasut dia.. Sentuh hatinya si Miun, Mbee nya aku..” pintamu meronta..

Tak ada suara, sepi, lampu temaram, dingin gigilkan tubuhmu yang beraroma senja merana tak berdaya..

Perempuan itu yakni AKU berdiri di depanmu dihadapanmu pilu..

“Separuh hati yang angkuh yang kamu taruh ketika pertama kali aku berlabuh, separuh hati yang luluh menyentuh ketika kamu tertunduk rapuh smakin buatkan hatiku bergemuruh.. Ketika ke angkuhanmu runtuh engkau tetap kukuh sekuat bunyi guruh.. Suaramu mendendangkan hatiku yang terus terjaga itu karena rinduku padamu twu..!!” ucap tegasku..

“Aku tak mendapati kepastian di matamu Dheno..!! Sampai saat aku ke sini dibawa kenangan dan sebaris rindu, rindu yang hebat.. Ternyata rindu yang hidupkan hari esok, memberi harapan dan kekuatan sampai kamu seperti ini senja, tua, dan renta.. Ya tetap saja tak ada sesuatu yang kamu sematkan ke jari manisku, TAK ADA UANG YANG BERSISA TUK KAMU TABUNGKAN TAK ADA RENCANA KEDEPAN MELAINKAN SLALU KETETERAN TIAP AKHIR BULAN..”

“Kamu terlalu tua untuk cinta serapuh itu, kamu tak berdaya, sebab kekuatanmu kamu buang percuma, hanya pada kekuatan uang dengan sloganmu COWO SEMAKIN KAYA SEMAKIN NAKAL.. CEWE SEMAKIN NAKAL SEMAKIN KAYA..!!, hatiku miris teriris..

“Apa bagimu aku tenang, dengan kalimat2 binalmu brsama orang yang kamu anggap sebagai sahabat lama itu, tapi tidak bagiku, dia masih tetap sebagai orang yang mengenalkanmu pada wanita dan menghancurkan hubungan kita karena wanita, tidakkah kamu belajar dari kehidupan asmaranya? Tetapkah istrinya bertahan kepadanya? Sanggupkah istrinya rela tuk di dua? Tidak bukan? Lagi2 itu karena wanita..!!”

“Dulu, jauh di masa lalu, saat aku ingin menyerahkan separuh hidupku padamu, kamu masih menjadi seorang pengabai, pecundang dan pengecut..!!” Jelas sesal saat semua mulai gelap, senyap dan pengap..

One day,
u will realize how much I was there for u,
when I’m gone..

One day,
u will realize how much I was there for u,
when I’m gone..

“Embee nya aku sedang apa ya disana?
Mungkinkah sedang tersenyum?
Bilakah cintanya aku memeluk bahagia,
apakah mbee menemui keindahan sayang?”

Andaikan saja Ombaa tidak mengabaikan…

“Embee nya aku sedang apa ya disana?
Mungkinkah sedang tersenyum?
Bilakah cintanya aku memeluk bahagia,
apakah mbee menemui keindahan sayang?”

Andaikan saja Ombaa tidak mengabaikan…

How do I tell you that you are the one I want fall in love with?

Please care to share..

How do I tell you that you are the one I want fall in love with?

Please care to share..

DOA TERINDAH DARI ORANG TERCINTA..
“Cintanya aq, happy birthday ya syg, semoga shat slalu, pnjang umur, dmudhkan krjaannya, dlancarkan sgala urusannya, byk rezeki, mkin syg sma aq jg. Mencinta sngat tw aq pdamu. Trma ksh y cyq slalu sbr dan setia sma aq yg kyk gni. I love u syg. Mmmuuaaaacchhh..”

DOA TERINDAH DARI ORANG TERCINTA..

“Cintanya aq, happy birthday ya syg, semoga shat slalu, pnjang umur, dmudhkan krjaannya, dlancarkan sgala urusannya, byk rezeki, mkin syg sma aq jg. Mencinta sngat tw aq pdamu. Trma ksh y cyq slalu sbr dan setia sma aq yg kyk gni. I love u syg. Mmmuuaaaacchhh..”

Dalam diam yang tercipta di gegap gempita malam, aku menunjukkan apa yang terbentuk dalam jiwa dengan laku tak biasa..
Aku merindukanmu dalam kesenyapan suara, aku merengkuh kesyahduan pada keheningan suasana, maka aku berusaha menghadang batas yang menjadi halang di dalam perjalanan yang tak terhitungkan pada kalimat yang tak terbantahkan..

Ingin sekali menyatakan segala isi yang seperti akan meluap dari ruang hati, tuk kita saling berbagi..
Tapi, aku mencoba menahan keinginan dan mengikuti cara pandangmu menjalin hubungan tanpa komunikasi basabasi..

Maka, tanpa berkata aku mencukupkan egoku untuk menunjukkan semua susunan kerinduan..
Mulut pun kukunci rapat agar tak menyatakan apa yang tak seharusnya tersampaikan kepadamu pada setiap cerita yang tak kan berkelanjutan..

Ya Rabb, beri aku kekuatan dan kesehatan.. 
Amien..

Dalam diam yang tercipta di gegap gempita malam, aku menunjukkan apa yang terbentuk dalam jiwa dengan laku tak biasa..
Aku merindukanmu dalam kesenyapan suara, aku merengkuh kesyahduan pada keheningan suasana, maka aku berusaha menghadang batas yang menjadi halang di dalam perjalanan yang tak terhitungkan pada kalimat yang tak terbantahkan..

Ingin sekali menyatakan segala isi yang seperti akan meluap dari ruang hati, tuk kita saling berbagi..
Tapi, aku mencoba menahan keinginan dan mengikuti cara pandangmu menjalin hubungan tanpa komunikasi basabasi..

Maka, tanpa berkata aku mencukupkan egoku untuk menunjukkan semua susunan kerinduan..
Mulut pun kukunci rapat agar tak menyatakan apa yang tak seharusnya tersampaikan kepadamu pada setiap cerita yang tak kan berkelanjutan..

Ya Rabb, beri aku kekuatan dan kesehatan..

Amien..